Gue termasuk orang yang nggak terlalu peduli dengan berita2 mengenai mantan pres kedua Indo, Almarhum Suharto. Dengan sakitnya almarhum waktu lalu sebelum berpulang, gue cuman comment “That man is 87 years old, right?”.Banyak yang masih menuntut naninu naninu about harta soeharto yang didapat dari korupsi and blab la bla … Kalo harus tetap diadili and blab blab blab …
Hhhmmm, tadinya gue nyoba juga buat baca. Tapi akhirnya jatuhnya gue juga nggak peduli about status hukum mantan pres itu.
Gue cuman bisa ambil pelajaran …
Gue thankful karena orang kayak beliau pernah jadi presiden di Negara gue ini. Dia udah mengajarkan gue dan kakak2 gue jadi tough, strong, dan nggak pernah putus asa. Dan ngajarin juga bahwa uang, materi, dan jabatan bukan segalanya. Gue melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pada masa Suharto, tentara di atas angin, dan bagaimana keluarga gue pernah teraniaya ama tentara. Salah satu yang paling baik diajarkan ama orang tua gue adalah kita tidak boleh membenci, ambil semua hikmah dan positif dari setiap kejadian, dan kita harus menyuarakan pendapat kita, no matter what. So, I don’t hate tentara, lagian not all tentara like Almarhum Suharto juga kok, kata mami waktu eyangnya dia jd tentara eyang baik nggak suka intimidate gitu
… wekekekekekeke. Gue cuman tetep berdoa dan belajar terus, supaya … gue tidak menjadi seperti mereka, soldiers yang drunk ama power.
Gue pernah merasakan segala fasilitas yang ada di-cut dan semua luxury yang gue punya, ilang. Hanya dalam semalam. Melihat bokap nyokap gue disuruh2, dimintain duit … paling nyiksa sih liat mami. Karena mama gue itu Tuan Putri berat di rumahnya. Nyokap gue nggak selsein kuliah then got married. Selama idupnya dia cuman tinggal di rumah ortunya dan suaminya. Mami yang udah biasa idup enak mesti beradepan ama orang2 seragam yang kemana – mana bawa gun. Yikes. Kerjaannya nangis aja tiap abis shalat malem. Ampun. Gue waktu itu masih umur 13 taun.
Dengan semua pengalaman yang tergambar di depan mata, semua itu membuat gue dan kakak2 gue learn a lot.
Loe still bring gun in your car compartment? Hopefully for a different reason. Bukan reason cemen yang dipake ama tentara2 brengsek yang kerjanya suka intimidate civilian, juga bukan reason yg dipake kakak gue … untuk nakut2in supir angkot, HAHAHAHAHAHA. So, I’m thankful for him. Thankful for tentara juga, karena mengajarkan gue dan memberikan gambaran persis kayak apa kita kalo kita drunk ama power. Thanks ya boo…
Yg gue suka dari tentara, mereka tu strict. Jawab A ya A, jawab B ya B. Punya pendirian, nggak plin-plan, nggak kayak bencong kanan kiri ok. Kalo gue bisa quote dari buku Macho Man Ngomong Cong-nya Fa yg gue baca, apa yg gue dapet ama intimidasinya Army people menjadikan gue orang yang memiliki black-or-white-never-grey personality. Penting tuh cing buat gue.
Sayangnya, almarhum nggak ngajarin itu ke anak cucunya. Jadinya ya seperti yang ada sekarang … I think they can do MUCH BETTER THAN WHAT THEY’RE DOING NOW!